Rabu, 27 April 2016

Kisah Anak yang Melakukan Qiyamul lail

 Syekh Ibnu Zhafar al-Makki mengatakan, 

“Saya dengar bahwa Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Busthami radhiyallahu ‘anhu ketika menghafal ayat berikut:
Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al-Muzzammil: 1-2)
Dia berkata kepada ayahnya, ‘Wahai Ayahku! Siapakah orang yang dimaksud Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Yang dimaksud ialah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai Ayahku! Mengapa engkau tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya qiyamul lail terkhusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diwajibkan baginya tidak bagi umatnya.’ Lalu dia tidak berkomentar.”
“Ketika dia telah menghafal ayat berikut:
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.’ (QS. Al-Muzzammil: 20)
Lalu dia bertanya, ‘Wahai Ayahku! Saya mendengar bahwa segolongan orang melakukan qiyamul lain, siapakah golongan ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Mereka adalah para sahabat –semoga ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu terlimpa kepada mereka semua.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai ayahku! Apa sisi baiknya meninggalkan sesuatu yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya?’ Ayahnya menjawab, ‘Kamu benar anakku.’ Maka, setelah itu ayahnya melakukan qiyamul lail dan melakukan shalat.”
“Pada suatu malam Abu Yazid bangun, ternyata ayahnya sedang melaksanakan shalat, lalu dia berkata, ‘Wahai ayahku! Ajarilah aku bagaimana cara saya bersuci dan shalat bersamamu?’ Lantas ayahnya berkata, ‘Wahai anakku! Tidurlah, karena kamu masih kecil.’ Dia berkata, ‘Wahai Ayahku! Pada hari manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya, saya akan berkata kepada Rabbku, ‘Sungguh, saya telah bertanya kepada ayahku tentang bagaimana cara bersuci dan shalat, tetapi ayah menolak menjelaskannya. Dia justru berkata, ‘Tidurlah! Kamu masih kecil’ Apakah ayah senang jika saya berkata demikian?’.” Ayahnya menjawab, ‘Tidak. Wahai anakku! Demi Allah, saya tidak suka demikian.’ Lalu ayahnya mengajarinya sehingga dia melakukan shalat bersama ayahnya.”
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Artikel www.KisahMuslim.com 
            / Sumber Link Utama

George bin Todzira

    Hidayah itu Datang Saat di Medan Perang

Memang hidayah itu istimewa. Ia mahal dan berharga. Kedudukan dan status sosial bukanlah ukuran mendapatkannya. Gelimang harta bukanlah sarana bisa mendapatkannya. Terkadang, ia pun datang di saat yang tak disangka. Ia datang di saat yang menyerunya mungkin sudah putus asa. Ia datang, kadang di saat musibah. Dan ia datang ketika permusuhan sudah mencapai puncaknya.
Seperti kisah George Todzira. Hidayah datang padanya justru saat ia tengah siap berperang.
George bin Todzira adalah panglima pasukan Bizantium. Di Perang Yarmuk, ia memimpin pasukan Roma, berperang menghadapi umat Islam yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu. Sebelum pecah pertempuran, terjadi kejadian yang menarik. George berdialog dengan Khalid hingga ia memeluk Islam dan berpindah posisi menjadi pasukan kaum muslimin.
Dalam kondisi demikian, bayangkan apa yang dirasakan pasukan Romawi Bizantium saat itu? Tentu moral pertempuran mereka kaget dan mengendur. Dan pastinya, George adalah orang pertama yang hendak mereka bunuh.

Ketika pasukan tengah bertemu, George memanggil Pedang Allah, Khalid bin al-Walid. Khalid pun keluar dari pasukan, dan Abu Ubaidah menggantikan posisinya. Di tengah ribuan pasukan, kedua panglima perang itu berdiri berhadap-hadapan. Hingga leher tunggangan mereka bertautan.
George berkata, “Wahai Khalid, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Jangan berbohong, karena orang yang merdeka tidak pantas berbohong. Jangan pula kau tipu aku, karena orang yang mulia tidak akan menipu”. George melanjutkan, “Apakah Allah menurunkan pedang dari langit kepada Nabi kalian, lalu ia memberikannya kepadamu? Kemudian tidaklah pedang itu berjumpa dengan suatu kaum, kecuali ia berhasil mengalahkannya?
“Tidak”, jawab Khalid singkat.
“Lalu mengapa engkau disebut dengan saifullah (Pedang Allah)?” Tanya George yang benar-benar menginginkan jawaban.
Khalid menjawab, “Sesungguhnya Allah ﷻ mengutus Nabi-Nya ke tengah-tengah kami. Ia mendakwahi kami, namun kami semua lari tak mengacuhkannya. Lalu sebagian kami ada yang membenarkan dakwahnya dan mengikutinya. Sementara yang lain menjauhi dan mendustakannya. Aku termasuk orang yang menjauhi, mendustakan, dan memeranginya. Setelah itu, Allah memberi hidayah kepada kami. Kami pun mengikuti ajarannya. Ia berkata kepadaku, ‘Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang ia hunuskan kepada orang-orang musyrik. Ia mendoakanku dengan kemenangan. Lalu melaqobiku dengan saifullah. Dari situlah, aku menjadi orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang musyrik”.
“Engkau telah jujur kepadaku”, sambut George menanggapi penjelasan Khalid.
Lalu ia kembali bertanya kepada Khalid, “Wahai Khalid, beri tahu aku, apa engkau serukan padaku?”
“Kepada persaksian bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Dan meyakini bahwa apa yang ada padanya (wahyu) adalah dari sisi Allah” Khalid menerangkan risalah Islam kepada George.
“Kalau orang tidak menerima seruan kalian itu?” tanya George.
“Jizyah menjamin mereka”, jawab Khliad.
“Bagaimana kalau mereka tidak mau menyerahkannya (jizyah)? tanya George.
“Kami perangi mereka”, jawab Khalid
“Bagaimana kedudukan orang-orang yang menerima seruan kalian?” tanya George.
“Kedudukan kami sama (setara) dalam kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan kepada kami. Baik orang yang mulia atau orang biasa. Baik yang awal (memeluk Islam) dan yang terakhir”, jawab Khalid.
George kembali mengajukan pertanyaan, “Apakah orang yang hari ini memeluk Islam –wahai Khalid- sama pahala dan ganjarannya?”
“Iya, bahkan bisa jadi lebih utama”, jawab Khalid.
Dengan nada heran, George kembali bertanya, “Bagaimana bisa ia sama dengan kalian, padahal kalian lebih dulu memeluk Islam?”
“Kami memeluk Islam dan berbaiat kepada nabi kami, di saat kami menjumpainya. Datang padanya kabar-kabar tentang kitab-kitab, lalu ia memperlihatkan tanda-tanda (kebesaran Allah) pada kami. Orang yang melihat apa yang kami lihat dan mendengar apa yang kami dengar membenarkannya, berislam, dan membaiatnya. Adapun kalian, kalian belum pernah menjumpai apa yang kami jumpai. Belum pernah mendengar apa telah kami dengar berupa mukjizat dan hujjah. Kalau kalian memeluk Islam dengan tulus dan sebenar-benarnya. Tentu lebih baik dari kami.” Jawab Khalid berusaha mengurai kebingungan George.
“Demi Allah, engkau berkata jujur, tidak menipuku, dan tidak berpura-pura padaku kan?” tanya George berusaha mendapatkan jawaban yang pasti.
Khalid menjwab, “Demi Allah, aku telah berucap jujur padamu. Aku tidak berkepentingan apapun padamu atau salah seorang dari kalian. Sesungguhnya Allah menjadi saksi atas apa yang engkau tanyakan padaku.”
George berkata, “Engkau telah jujur padaku.” Saat itu, George yang masih dalam persiapan berperang mulai luluh hatinya tatkala mendengar penjelasan dan seruan Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu. Hatinya bergetar dan cenderung kepada Khalid. Kemudian, di tengah medan perang dan posisi siap berperang, George mengucapkan perkataan yang mengejutkan, “Ajarkanlah aku tentang Islam”, pintanya.
Lalu Khalid mengajaknya ke tendanya. Menyediakan air untuknya bersuci. Kemudian George menunaikan shalat dua rakaat. George telah memeluk Islam. Khalid bin al-Walid dan para sahabat Nabi memberikan teladan bahwa berangkat ke medan perang bukanlah semata-mata untuk membunuh orang. Tapi tujuan utamanya adalah memberikan hidayah. Inilah bedanya jalan para sahabat dengan orang-orang yang terlibat aksi terorisme. Tujuan mereka membunuh, bukan memberi hidayah.
Keluar dari Bizantium dengan permusuhan yang memuncak dan memimpin pasukan untuk memerangi Islam dan kaum muslimin, ternyata saat itulah hidayah datang kepadanya. Oleh karena itu, janganlah kita berputus asa. Sebagaimana Khalid masih mengharapkan hidayah kepala pasukan yang hendak membunuh dan memeranginya.
George berbalik posisi. Ia berdiri di sebelah Khalid untuk memerangi pasukan Bizantium. Dalam perang itu ia menderita luka parah dan menemui syahidnya di medan Yarmuk. Setelah berislam, ia hanya satu kali melakukan shalat, dan sujud dalam dua rakaat. Kemudian ia gugur di medan jihad.
Benarlah apa yang Khalid ucapkan, bisa jadi orang yang baru memeluk Islam dan sedikit amalnya lebih unggul dibanding orang yang terlahir sebagai seorang muslim. George hanya menunaikan satu kali shalat dalam hidupnya, namun ia mendapatkan kemuliaan jihad di jalan Allah. Menjemput kematian sebagai seorang syuhada, insya Allah.

Sumber:
– Tarikh al-Umam wa –ar-Rusul wa al-Muluk oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, jilid 3, halaman 398-400.
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

https://kisahmuslim.com/5385-george-bin-todzira-hidayah-datang-saat-di-medan-perang.html

Selasa, 19 April 2016

~Pengantin Baitul Maqdis ~

  “Aku menginginkan istri yang sholihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyahkan dengan baik hingga jadi pemuda ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin”.

 
Begitulah impian luar biasanya Najmudin Ayyub (Ayah Shalahuddin Al-Ayyubi), seorang penguasa Tikrit di Iraq. Sekian lama lelaki ini membujang demi sebuah harapan, dia hanya mau menikah dengan sosok wanita istimewa. Berbagai tawaran ditolaknya, bahkan ketika saudaranya memilihkan putri Malik Syah anak Sultan Muhammad bin Malik Syah Raja dari Bani Saljuk, atau putri Nidzamul Malik, mantan menteri agung zaman Abbasiyah.

Suatu hari ketika ia duduk – duduk bersama seorang syaikh, datanglah seorang wanita yang mengadukan masalahnya, gadis itu telah menolak pinangan seorang pemuda.
Di saat syaikh itu menanyakan kenapa dia menolaknya. Wanita itu (juga) mengatakan: 
Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin”.


MaasyaAllaah  ! Kata – kata yang sama pernah diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Di dunia ini tak ada yang kebetulan semua telah ditaqdirkan-Nya. Barang siapa ikhlas niat karena Allah Azza wa Jalla semata maka Allah akan menolong dan memudahkan semua urusan hamba-Nya.
Keduanya akhirnya menikah, bukan karena kecantikan, ketampanan atau kedudukan, tetapi demi sebuah obsesi besar yang mempertemukan mereka. Bara kerinduan membuncah akan lahirnya insan pilihan yang mampu meninggikan panji – panji Islam.

Kala itu negeri kaum muslimin tengah dilanda kehinaan dengan bercokolnya kaum salibis di berbagai belahan dunia. Allahu Akbar….  Azam begitu membaja, do’a serta keshalihan mereka berdua akhirnya berbuah manis. Maka dari dua sosok spektakuler inilah lahirlah Sholahuddin Al Ayyubi, sang penakluk Baitul Maqdis.
Selamat wahai Najmuddin, sungguh labuhan cintamu membawa keberkahan bagi kejayaan Islam. Siapa yang tak kenal dia ? seorang pemberani yang rendah hati, dialah buah cinta yang tersemai dalam harumnya cinta sejati. Hingga detik ini kisahnya telah menginspirasi kaum muslimin untuk selalu berjuang meninggikan kalimat Tauhid Laailaahaillallah.

Ada banyak hikmah dari perjalanan cinta Najmuddin. Diantaranya adalah suami istri haruslah memilki visi, misi dan orientasi yang sama dalam pernikahannya. Tanpa tujuan yang jelas mustahil gambaran rumah tangga Islami yang penuh dengan mawaddah serta rahmat-Nya hanyalah mimpi dan sulit diwujudkan. Satu hal lagi betapapun hebat dan terlihat menakjubkan target – target yang di cita – citakan pasutri namun tanpa ilmu, semangat, dan komitmen kuat untuk mewujudkan obsesi – obsesinya semua itu tak ada manfaatnya.
Di sinilah pasutri perlu bersinergi dan selalu berkolaborasi agar pernikahannya selalu sukses lahir batin, dunia maupun akhirat. Termasuk para calon pasutri, tak ada salahnya anda memupuk asa sebagaimana cerita Najmuddin. Bersemangatlah jangan engkau pesimis dan ragu. Bercita – citalah melahirkan generasi pembuka Roma.

Point penting kedua yang dapat diteladani dari pernikahan istimewa diatas bahwa faktor kesholihan kedua orang tua memilki kontribusi besar dalam mencetak generasi Rabbani. Sebagaimana pepatah yang cukup populer,dengan  dasar agama Islam yang baik dan benar tentunya mereka akan berjuang keras agar keturunannya mempunyai kualitas serta kuantitas agama yang bagus bahkan mungkin melebihi keshalihan keduanya.

Bukankah mendidik anak dan membimbing anak lebih sulit dibandingkan dengan melahirkannya?. Mentarbiyahnya butuh ilmu, semangat kesabaran dan do’a yang tak kenal henti.(1)

Jika memang benar cintamu karena Allah
Yakinlah, orang yang shalih pasti bertemu dengan yang shalihah 
Yang hijabnya syar'i akan bertemu dengan ikhwan yang tidak isbal
Seorang Ikhwan yang rajin jama'ah di Masjid
Akan berjodoh pula dengan yang senantiasa menjaga auratnya dirumah
Seorang yang bercita-cita mulia dijalan Allah semata
Maka Allah akan mempertemukannya kepada siapa saja yang pantas menurut Allah.(2)

Akan tetapi jangan lupa, CINTAMU HARUS Benar-benar jujur, cinta pacaran ataupun cinta monyet saja tidak akan pernah cukup,,
Salah satu Imam Mazhab, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I rahimahullah pernah menuturkan,

لو كان حبك صادقا لأطعته … إن المحب لمن يحب مطيع

Jika Cintamu Jujur….
Niscaya ‘kau ‘kan taati dirinya…
Karna sesungguhnya orang yang mencintai itu…
Akan sangat taat kepada kekasih yang dicintainya..(3)



———————————————————————–
1). Penulis: Ummu Nashifah Isruwanti
     Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits
     Artikel www.muslimah.or.id
    Dengan sedikit pengurangan penambahan (Yusuuf Arifin).
    Judul Asli : PENGANTIN BAITUL MAQDIS, https://muslimah.or.id/8478-pengantin-baitul-maqdis.html

2). Kreatif bikin sendiri , hh... 

3). Syair ini dikutip dari Imam Asy-Syafi’i oleh
    (a) محمد بن أبي بكر أيوب الزرعي أبو عبد الله (masyhur dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah) dalam kitab روضة المحبين ونزهة المشتاقين , cet. دار الكتب العلمية – بيروت ، 1412 – 1992, hal. 266
    (b) : محمد بن أبي بكر أيوب الزرعي أبو عبد الله. Dalam kitab طريق الهجرتين وباب السعادتين, cet III (1414 – 1994) : دار ابن القيم –   الدمام , hal. 444.
   (c) anonim,  dalam kitab مجمع الحكم و الأمثال,  tidak tertulis halamannya.
       
       diambil dari link ini           
               

Jumat, 08 April 2016

Kisah Orang Shalih "Shalahuddin al-Ayyubi رَحِمَهُ اللهُ"


Kali ini kita akan bercerita tentang seorang laki-laki mulia dan memiliki peranan yang besar dalam sejarah Islam, seorang panglima Islam, serta kebanggaan suku Kurdi, ia adalah Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub bin Syadi atau yang lebih dikenal dengan Shalahuddin al-Ayyubi atau juga Saladin. Ia adalah seorang laki-laki yang mungkin sebanding dengan seribu laki-laki lainnya.

Asal dan Masa Pertumbuhannya
tikritShalahuddin al-Ayyubi adalah laki-laki dari kalangan ‘ajam (non-Arab), tidak seperti yang disangkakan oleh sebagian orang bahwa Shalahuddin adalah orang Arab, ia berasal dari suku Kurdi. Ia lahir pada tahun 1138 M di Kota Tikrit, Irak, kota yang terletak antara Baghdad dan Mosul. Ia melengkapi orang-orang besar dalam sejarah Islam yang bukan berasal dari bangsa Arab, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan lain-lain.
Karena suatu alasan, kelahiran Shalahuddin memaksa ayahnya untuk meninggalkan Tikrit sehingga sang ayah merasa kelahiran anaknya ini menyusahkan dan merugikannya. Namun kala itu ada orang yang menasihatinya, “Engkau tidak pernah tahu, bisa jadi anakmu ini akan menjadi seorang raja yang reputasinya sangat cemerlang.”
Dari Tikrit, keluarga Kurdi ini berpindah menuju Mosul. Sang ayah, Najmuddin Ayyub tinggal bersama seorang pemimpin besar lainnya yakni Imaduddin az-Zanki. Imaduddin az-Zanki memuliakan keluarga ini, dan Shalahuddin pun tumbuh di lingkungan yang penuh keberkahan dan kerabat yang terhormat. Di lingkungan barunya dia belajar menunggang kuda, menggunakan senjata, dan tumbuh dalam lingkungan yang sangat mencintai jihad. Di tempat ini juga Shalahuddin kecil mulai mempelajari Alquran, menghafal hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mempelajari bahasa dan sastra Arab, dan ilmu-ilmu lainnya.
Diangkat Menjadi Mentri di Mesir
Sebelum kedatangan Shalahuddin al-Ayyubi, Mesir merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Syiah, Daulah Fathimiyah. Kemudian pada masa berikutnya Dinasti Fathimiyah yang berjalan stabil mulai digoncang pergolakan di dalam negerinya. Orang-orang Turki, Sudan, dan Maroko menginginkan adanya revolusi. Saat itu Nuruddin Mahmud, paman Shalahuddin, melihat sebuah peluang untuk menaklukkan kerajaan Syiah ini, ia berpandangan penaklukkan Daulah Fathimiyyah adalah jalan lapang untuk membebaskan Jerusalem dari kekuasaan Pasukan Salib.
Nuruddin benar-benar merealisasikan cita-citanya, ia mengirim pasukan dari Damaskus yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh untuk membantu keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, di Mesir. Mengetahui kedatangan pasukan besar ini, sebagian Pasukan Salib yang berada di Mesir pun lari kocar-kacir sehingga yang dihadapi oleh Asaduddin dan Shalahuddin hanyalah orang-orang Fathimyah saja. Daulah Fathimiyah berhasil dihancurkan dan Shalahuddin diangkat menjadi mentri di wilayah Mesir. Namun tidak lama menjabat sebagai menteri di Mesir, dua bulan kemudian Shalahuddin diangkat sebagai wakil dari Khalifah Dinasti Ayyubiyah.
Selama dua bulan memerintah Mesir, Shalahuddin membuat kebijakan-kebijakan progresif yang visioner. Ia membangun dua sekolah besar berdasarkan madzhab Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini ia tujukan untuk memberantas pemikiran Syiah yang bercokol sekian lama di tanah Mesir. Hasilnya bisa kita rasakan hingga saat ini, Mesir menjadi salah satu negeri pilar dakwah Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni. Kebijakan lainnya yang ia lakukan adalah mengganti penyebutan nama-nama khalifah Fathimiyah dengan nama-nama khalifah Abbasiyah dalam khutbah Jumat.
Menaklukkan Jerusalem
Persiapan Shalahuddin untuk menggempur Pasukan Salib di Jerusalem benar-benar matang. Ia menggabungkan persiapan keimanan (non-materi) dan persiapan materi yang luar biasa. Persiapan keimanan ia bangun dengan membersihkan akidah Syiah bathiniyah dari dada-dada kaum muslimin dengan membangun madrasah dan menyemarakkakn dakwah, persatuan dan kesatuan umat ditanamkan dan dibangkitkan kesadaran mereka menghadapi Pasukan Salib. Dengan kampanyenya ini ia berhasil menyatukan penduduk Syam, Irak, Yaman, Hijaz, dan Maroko di bawah satu komando. Dari persiapan non-materi ini terbentuklah sebuah pasukan dengan cita-cita yang sama dan memiliki landasan keimanan yang kokoh.

crusade

Dari segi fisik Shalahuddin mengadakan pembangunan makas militer, benteng-benteng perbatasan, menambah jumlah pasukan, memperbaiki kapal-kapal perang, membangun rumah sakit, dll.
Pada tahun 580 H, Shalahuddin menderita penyakit yang cukup berat, namun dari situ tekadnya untuk membebaskan Jerusalem semakin membara. Ia bertekad apabila sembuh dari sakitnya, ia akan menaklukkan Pasukan Salib di Jerusalem, membersihkan tanah para nabi tersebut dari kesyirikan trinitas.
Dengan karunia Allah, Shalahuddin pun sembuh dari sakitnya. Ia mulai mewujudkan janjinya untuk membebaskan Jerusalem. Pembebasan Jerusalem bukanlah hal yang mudah, Shalahuddin dan pasukannya harus menghadapi Pasukan Salib di Hathin terlebih dahulu, perang ini dinamakan Perang Hathin, perang besar sebagai pembuka untuk menaklukkan Jerusalem. Dalam perang tersebut kaum muslimin berkekuatan 63.000 pasukan yang terdiri dari para ulama dan orang-orang shaleh, mereka berhasil membunuh 30000 Pasukan Salib dan menawan 30000 lainnya.
Setelah menguras energy di Hathin, akhirnya kaum muslimin tiba di al-Quds, Jerusalem, dengan jumlah pasukan yang besar tentara-tentara Allah ini mengepung kota suci itu. Perang pun berkecamuk, Pasukan Salib sekuat tenaga mempertahankan diri, beberapa pemimpin muslim pun menemui syahid mereka –insya Allah- dalam peperangan ini. Melihat keadaan ini, kaum muslimin semakin bertambah semangat untuk segera menaklukkan Pasukan Salib.
Untuk memancing emosi kaum muslimin, Pasukan Salib memancangkan salib besar di atas Kubatu Shakhrakh. Shalahuddin dan beberapa pasukannya segera bergerak cepat ke sisi terdekat dengan Kubbatu Shakhrakh untuk menghentikan kelancangan Pasukan Salib. Kemudian kaum muslimin berhasil menjatuhkan dan membakar salib tersebut. Setelah itu, jundullah menghancurkan menara-menara dan benteng-benteng al-Quds.
Pasukan Salib mulai terpojok, merek tercerai-berai, dan mengajak berunding untuk menyerah. Namun Shalahuddin menjawab, “Aku tidak akan menyisakan seorang pun dari kaum Nasrani, sebagaimana mereka dahulu tidak menyisakan seorang pun dari umat Islam (ketika menaklukkan Jerusalem)”. Namun pimpinan Pasukan Salib, Balian bin Bazran, mengancam “Jika kaum muslimin tidak mau menjamin keamanan kami, maka kami akan bunuh semua tahanan dari kalangan umat Islam yang jumlahnya hampir mencapai 4000 orang, kami juga akan membunuh anak-anak dan istri-istri kami, menghancurkan bangunan-bangunan, membakar harta benda, menghancurkan Kubatu Shakhrakh, membakar apapun yang bisa kami bakar, dan setelah itu kami akan hadapi kalian sampai darah penghabisan! Satu orang dari kami akan membunuh satu orang dari kalian! Kebaikan apalagi yang bisa engkau harapkan!” Inilah ancaman yang diberikan Pasukan Salib kepada Shalahuddin dan pasukannya.




Dome of The Rock atau Kubatu Shakhrakh
Dome of The Rock atau Kubatu Shakhrakh
Shalahuddin pun mendengarkan dan menuruti kehendak Pasukan Salib dengan syarat setiap laki-laki dari mereka membayar 10 dinar, untuk perempuan 5 dinar, dan anak-anak 2 dinar. Pasukan Salib pergi meninggalkan Jerusalem dengan tertunduk dan hina. Kaum muslimin berhasil membebaskan kota suci ini untuk kedua kalinya.
Shalahuddin memasuki Jerusalem pada hari Jumat 27 Rajab 583 H / 2 Oktober 1187, kota tersebut kembali ke pangkuan umat Islam setelah selama 88 tahun dikuasai oleh orang-orang Nasrani. Kemudian ia mengeluarkan salib-salib yang terdapat di Masjid al-Aqsha, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, dan mengembalikan kehormatan masjid tersebut.




Masjid al-Aqsha
Masjid al-Aqsha
Wafatnya Sang Pahlawan
Sebagaimana manusia sebelumnya, baik dari kalangan nabi, rasul, ulama, panglima perang dan yang lainnya, Shalahuddin pun wafat meninggalkan dunia yang fana ini. Ia wafat pada usia 55 tahun, pada 16 Shafar 589 H bertepatan dengan 21 Febuari 1193 di Kota Damaskus. Ia meninggal karena mengalami sakit demam selama 12 hari. Orang-orang ramai menyalati jenazahnya, anak-anaknya Ali, Utsman, dan Ghazi turut hadir menghantarkan sang ayah ke peristirahatannya. Semoga Allah meridhai, merahmati, dan  membalas jasa-jasa engkau wahai pahlawan Islam, sang pembebas Jerusalem.
Sumber:
Shalahuddin al-Ayyubi Bathalu al-Hathin oleh Abdullah Nashir Unwan
Shalahuddin al-Ayyubi oleh Basim al-Usaili
Shalahuddin al-Ayyubi oleh Abu al-Hasan an-Nadawi
Islamstroy.com
Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com
https://kisahmuslim.com/3915-shalahuddin-al-ayyubi.html
Untuk mendengarkan kisahnya versi suara / mp3 khalifah trans7, bisa di download disini : http://www.4shared.com/mp3/7Xe8MYdlce/Khalifah_-_Shalahuddin_Al_Ayyu.html 

Minggu, 27 Maret 2016

Uwais Al-Qarni : “Saya bersumpah kepada Anda wahai Amriul Mukminin agar engkau tidak melakukannya. Biarkanlah saya berjalan di tengah lalu lalang banyak orang tanpa dipedulikan orang.”

  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita mengenai Uwais al-Qarni tanpa pernah melihatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia diberi kesembuhan, tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”


Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Jika kamu bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) untukmu, maka lakukanlah!”
Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu telah menjadi Amirul Mukminin, dia bertanya kepada para jamaah haji dari Yaman di Baitullah pada musim haji, “Apakah di antara warga kalian ada yang bernama Uwais al-Qarni?” “Ada,” jawab mereka.
Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaannya ketika kalian meninggalkannya?”
Mereka menjawab tanpa mengetahui derajat Uwais, “Kami meninggalkannya dalam keadaan miskin harta benda dan pakaiannya usang.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada mereka, “Celakalah kalian. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita tentangnya. Kalau dia bisa memohonkan ampun untuk kalian, lakukanlah!”
Dan setiap tahun Umar radhiyallahu ‘anhu selalu menanti Uwais. Dan kebetulan suatu kali dia datang bersama jemaah haji dari Yaman, lalu Umar radhiyallahu ‘anhu menemuinya. Dia hendak memastikannya terlebih dahulu, makanya dia bertanya, “Siapa namamu?”
“Uwais,” jawabnya.
Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Di Yaman daerah mana?’
Dia menjawab, “Dari Qarn.”
“Tepatnya dari kabilah mana?” Tanya Umar radhiyallahu ‘anhu.
Dia menjawab, “Dari kabilah Murad.”
Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Bagaimana ayahmu?”
“Ayahku telah meninggal dunia. Saya hidup bersama ibuku,” jawabnya.
Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Bagaimana keadaanmu bersama ibumu?’
Uwais berkata, “Saya berharap dapat berbakti kepadanya.”
“Apakah engkau pernah sakit sebelumnya?” lanjut Umar radhiyallahu ‘anhu.
“Iya. Saya pernah terkena penyakit kusta, lalu saya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga saya diberi kesembuhan.”
Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya lagi, “Apakah masih ada bekas dari penyakit tersebut?”
Dia menjawab, “Iya. Di lenganku masih ada bekas sebesar dirham.” Dia memperlihatkan lengannya kepada Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu melihat hal tersebut, maka dia langsung memeluknya seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mohonkanlah ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untukku!”
Dia berkata, “Masa saya memohonkan ampun untukmu wahai Amirul Mukminin?”
Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Iya.”
Umar radhiyallahu ‘anhu meminta dengan terus mendesak kepadanya sehingga Uwais memohonkan ampun untuknya.
Selanjutnya Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepadanya mengenai ke mana arah tujuannya setelah musim haji. Dia menjawab, “Saya akan pergi ke kabilah Murad dari penduduk Yaman ke Irak.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya akan kirim surat ke walikota Irak mengenai kamu?”
Uwais berkata, “Saya bersumpah kepada Anda wahai Amriul Mukminin agar engkau tidak melakukannya. Biarkanlah saya berjalan di tengah lalu lalang banyak orang tanpa dipedulikan orang.”
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1
Artikel www.KisahMuslim.com

Alhamdulillah jika memang benar kamu Terasing karena menegakkan Agama Allah Ta'ala,,

SUATU KETERASINGAN DI TENGAH KERAMAIAN

—oOo—
 

Keterasingan di tengah keramaian adalah suatu fenomena yang kini sudah tidak asing lagi di tengah-tengah manusia di mana kebanyakan manusia berbuat kerusakan maka segelintir manusia berbuat perbaikan. Di antara kerusakan itu ialah:

Pinjam-meminjam dengan cara Riba seakan-akan menjadi mu’amalah yang mubah -waliya’udzubillaah-
Menjalin hubungan perasaan (cinta) terlarang seakan-akan bukan lagi suatu kemaksiatan -waliya’udzubillaah-
Menggunakan Pakaian Muslim seakan-akan menjadi suatu kejanggalan dan keanehan di mata masyarakat muslim sendiri -subhaanallaah-
Mendengarkan Al-Qur’an dan membacanya menjadi suatu yang mengganggu tetangga padahal tetangga yang menyetel musik sekeras-kerasnya tidak menjadi suatu gangguan -Subhanallaah-
Ketika seseorang berbuat amar ma’ruf nahi munkar seolah-olah ia menjadi pahlawan kesiangan yang tidak berarti di tengah manusia -Subhanallaah-
Ketika seseorang berusaha menegakkan Sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ejekan dan celaan pun ditujukan padanya dianggapnya “sok religius loe” -Subhanallaah-
Ketika segelintir da’i menyerukan kepada Tauhid menjauhi Syirik, menyerukan kepada As-Sunnah dan menjauhi Bid’ah maka masyarakat pun menolaknya dan bahkan menentang serta mengusirnya karena bertolak-belakang dengan tradisi dan adat setempat -Subhanallaah-
Ketika banyak da’i yang mengajak kepada kesesatan dengan wujud kebaikan serta tidak bertentangan dengan budaya dan tradisi masyarakat maka da’i-da’i itu pun mendapatkan posisi yang tertinggi dan dielu-elukan bahkan bisa sampai disembah-sembah oleh masyarakat. -waliya’udzubillaah-
Betapa banyaknya manusia bermain Riba di Bank
Betapa sedikitnya manusia bersabar atas kekurangan harta
Betapa banyaknya manusia berpacaran
Betapa sedikitnya manusia ta’aruf syar’i
Betapa banyaknya manusia menanggalkan jilbab syar’i
Betapa sedikitnya manusia berpakaian telanjang
Betapa banyaknya manusia berjoget-joget sambil bernyanyi
Betapa sedikitnya manusia duduk membaca Al-Qur’an
Betapa banyaknya manusia mendukung kemaksiatan
Betapa sedikitnya manusia mendukung ketaatan
Betapa banyaknya manusia membiarkan kemudharatan
Betapa sedikitnya manusia mencegah kemudharatan
Sesungguhnya kesemuanya ini adalah suatu keadaan yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak dahulu dan ternyata keadaan itu sedang berlangsung di masa kini di mana kesemuanya itu menjadi suatu fenomena yang pahit bagi Al-Ghuraba di mana Al-Ghuraba menjadi segelintir kaum muslimin yang minoritas dan terasing di tengah-tengah kepadatan masyarakat.
—oOo—
Tanya:
Lalu Siapakah Al-Ghuraba ?
Jawab:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ- زاد جماعة من أئمة الحديث في رواية أخرى- قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنِ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ
“Islam berawal dengan keasingan dan akan kembali asing sebagaimana mulanya, maka beruntunglah Al-Ghuraba.”[HR. Muslim] dalam riwayat lain terdapat tambahan: Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, siapakah al-Ghuraba’?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang melakukan perbaikan saat manusia rusak.”
Al-‘Allamah Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baaz rahimahullaahu ta’ala menerangkan makna Al-Ghuraba yaitu:
فالمقصود أن الغرباء هم أهل الاستقامة، فطوبى للغرباء، أي الجنة والسعادة للغرباء الذين يصلحون عند فساد الناس، إذا تغيرت الأحوال، و…… الأمور، وقل أهل الخير، ثبتوا هم على الحق، واستقاموا على دين الله، ووحدوا الله، وأخلصوا له في العبادة، واستقاموا على الصلاة والزكاة والصيام والحج وسائر أمور الدين، هؤلاء هم الغرباء وهم الذين قال الله فيهم وفي أشباههم
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ * نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ -أي ما تطلبون- نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ[فصلت: 30-32]. ف
فالإسلام بدأ غريباً في مكة لم يؤمن به إلا القليل، وأكثر الخلق عادوه وعاندوا النبي -صلى الله عليه وسلم-، وآذوه -عليه الصلاة والسلام-، وآذوا أصحابه الذين أسلموا، ثم انتقل المدينة مهاجراً وانتقل معه من قدم من أصحابه، وكان غريباً أيضاً حتى كثر أهله في المدينة وفي بقية الأمصار، ثم دخل الناس في دين الله أفواجاً بعد أن فتح الله على نبينا مكة -عليه الصلاة والسلام-.
Adapun Maksud dari (Al-Ghuraba) ialah orang-orang yang beristiqamah. (Maka beruntunglah Al-Ghuraba) yaitu: (disediakannya) Surga dan Kebahagiaan bagi Al-Ghuraba yang mereka itu memperbaiki orang-orang yang berbuat kerusakan disaat keadaan dan segala urusan telah berubah (menjadi rusak) dan dikatakan juga sebagai Ahlul Khair (orang-orang yang berbuat kebaikan) teguh di atas kebenaran dan konsisten di atas Agama Allah serta mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan peribadahan hanya untuk-Nya, dan mereka juga istiqamah dalam Shalat, Zakat, Puasa, Haji dan seluruh perkara-perkara Agama dan mereka itulah yang dinamakan Al-Ghuraba. mereka (Al-Ghuraba) dan semisalnya yang disebutkan dalam Firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushilat: 30-32)
Islam itu dimulai dengan keterasingan di Makkah dan tidak ada yang beriman terhadapnya kecuali sedikit sekali dan kebanyakan manusia sangat memusuhinya dan memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan mengganggu beliau ‘alaihish shalaatu was salaam dan juga para shahabatnya yang telah memeluk Islam yang kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum Muhajirin dari kalangan para shahabatnya berpindah ke Madinah. dan keadaan mereka pun tetap asing hingga terdapat para pengikut beliau di Madinah dalam jumlah yang banyak dari kalangan Anshar dan kemudian orang-orang pun memeluk Agama Allah (Islam) secara berbondong-bondong setelah Allah ta’ala membukakan kota Makkah (Fathul Makkah) untuk Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.[1]
Dengan demikian seorang yang terasing di tengah keramaian dikarenakan ia berusaha istiqamah dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya dan teguh di atas Al-Haq (kebenaran) dan ittiba’ (mengikuti) petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas pemahaman para salafush shalih hendaknya janganlah merasa berkecil hati karena kondisi seperti ini sudah diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam sabdanya dan mereka itu dikatakan “beruntunglah Al-Ghuraba” yang mafhum mukhalafah-nya adalah celakalah kebanyakan manusia yang mereka telah lalai dari kewajibannya karena tergiur oleh fitnah duniawi semata dan hal ini dapat diketahui sebagaimana Allah ta’ala telah menerangkan dalam firman-Nya Surat Al-‘Ashr bahwasanya seluruh manusia berada dalam keadaan yang merugi kecuali ia memiliki empat shifat dalam dirinya[2]. Semoga apa yang kami sampaikan ini bermanfaat bagi kami dan antum sekalian.
—oOo—
[Abul Jibrin: Tangerang Selatan, Ahad 15/09/2013, 10.30 AM]

  1. Sumber: http://www.binbaz.org./
  2. Baca juga artikel: Melepaskan Diri Dari Kerugian (Tafsir Surat Al-‘Ashr)

Jumat, 18 Maret 2016

Budaya Arab: Akhlak Masyarakat Arab Sebelum Islam

Di antara kebiasaan buruk atau budaya buruk masyarakat Arab jahiliyah adalah: Mabuk-mabukan dan Berjudi  Budaya buruk masyarakat Arab jahiliyah adalah akrab dengan mabuk dan perjudian. Dua kebiasaan buruk yang melahirkan keburukan lainnya. Allah ﷻ berfirman,
إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنْصابُ وَالأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS:Al-Maidah | Ayat: 90).
Masyarakat Arab jahiliyah terbiasa meminum khamr. Bagi mereka, minuman memabukkan itu layaknya air putih sebagai penghilang dahaga bagi kita. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,
سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ فِي الجَاهِلِيَّةِ: “اسْقِنَا كَأْسًا دِهَاقً
“Aku mendengar ayahku di masa jahiliyah mengatakan, ‘Berilah kami minum dengan gelas-gelas penuh berisi minuman (khamr)’.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadha-il ash-Shahabah, Bab Ayyamul Jahiliyah, No: 3627).
Yakni, Paman Nabi ﷺ, al-Abbas bin Abdul Muthalib, di masa jahiliyah meminta khamr sebagai minuman biasa.
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,
خَطَبَ عُمَرُ عَلَى مِنْبَرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: “أَمَّا بَعْدُ، أَلَا وَإِنَّ الْخَمْرَ نَزَلَ تَحْرِيمُهَا يَوْمَ نَزَلَ وَهِيَ مِنْ خَمْسَةِ أَشْيَاءَ مِنَ الْحِنْطَةِ، وَالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرِ، وَالزَّبِيبِ، وَالْعَسَلِ
“Umar pernah berkhotbah di atas mimbar Rasulullah ﷺ. Ia memanjatkan puja-puji kepada Allah. Kemudian berkata, ‘Amma ba’du.. Ketauhilah sesungguhnya ayat yang mengharamkan khamr (minuman keras) telah diturunkan. Pada hari ayat itu turun, khamr terbuat dari lima hal: terbuat dari gandum halus, gandum kasar, kurma, anggur kering, dan madu’.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tafsir Suratul Maidah, No: 4343 dan Muslim dalam Kitab at-Tafsir, Bab fi Nuzuli Tahrimil Khamr, No: 3032).
Minuman kerasnya penduduk Madinah terbuat dari perasan kurma. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan,
كُنْتُ سَاقِيَ الْقَوْمِ يَوْمَ حُرِّمَتِ الْخَمْرُ فِي بَيْتِ أَبِي طَلْحَةَ، وَمَا شَرَابُهُمْ إِلَّا الْفَضِيخُ: الْبُسْرُ وَالتَّمْر
“Aku pernah menuangkan khamr pada sekelompok orang di rumah Abu Thalhah. Hari itu adalah hari khamr diharamkan. Mereka (penduduk Madinah) hanya minum fadhih (minuman keras yang terbuat dari perasan kurma), kurma muda dan kurma masak.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Asyribah, Bab Nazala Tahrimi al-Khamr wa Hiya min al-Busri wa at-Tamri, No: 5261 dan Muslim dalam Kitab al-Asyribah, Bab Tahrimi al-Khamr wa Bayan Annaha Takunu min ‘Ashir al-‘Inab wa min at-Tamr wa al-Busr, No: 1980. Lafadz ini adalah lafadz riwayat Muslim).
Sedangkan khamrnya penduduk Yaman adalah al-Bit’u. Khamr yang terbuat dari madu. Abu Musa al-Asy’ari mengatakan,
بَعَثَنِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَمُعَاذًا إِلَى الْيَمَن، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفْتِنَا فِي شَرَابَيْنِ كُنَّا نَصْنَعُهُمَا بِالْيَمَنِ الْبِتْعُ؛ وَهُوَ مِنَ الْعَسَلِ، يُنْبَذُ حَتَّى يَشْتَدَّ، وَالْمِزْرُ وَهُوَ مِنَ الذُّرَةِ وَالشَّعِيرِ، يُنْبَذُ حَتَّى يَشْتَدَّ. فَقَالَ: “أَنْهَى عَنْ كُلِّ مُسْكِرٍ أَسْكَرَ عَنِ الصَّلاةِ
“Rasulullah ﷺ mengutusku dan Muadz menuju Yaman. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berilah fatwa kepada kami mengenai minuman yang biasa kami buat di negeri Yaman, yaitu al-Bit’u. Terbuat dari madu yang direndam hingga mengental’. Beliau bersabda, ‘Aku melarang segala sesuatu yang memabukkan dan dapat menghalangi dari shalat’.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Asyribah, Bab Bayan anna Kulla Muskirin Khamrun wa anna Kulla Khamrin Haram, No: 2001).
Orang-orang Daylam biasa meminum khamr yang terbuat dari gandum (Muhammad bin Razaq bin Tharhuni, 1/121-122).
Perlu dicatat, walaupun orang-orang Arab jahiliyah sangat terbiasa minum khamr, tapi mereka tetap menganggap perbuatan ini tercela. Karena membuat kesadaran hilang dan meruntuhkan wibawa1.
Ada beberapa poin menarik mengamati hubungan masyarakat Arab jahiliyah dengan khamr. Ungkapan-ungkapan tentang khamr menunjukkan mereka pecandu berat khamr. Kalau kita hidup karena minum air putih, maka mereka mengungkapkan, ‘mereka hidup karena minum khamr’. Mereka sebut khamr sebagai minuman biasa. Seolah-olah dahaga sahara akan lenyap jika ada khamr. Karena itu, Alquran membuat tahapan dalam pengharamannya. Setelah itu, mereka tinggalkan candu yang luar biasa itu. Mereka komitmen dengan dua kalimat syahadat. Persaksian yang menuntut menaati apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Saat itulah tampak akhlak luhur (tepat janji dan komitmen) yang mereka miliki berfungsi sebagaimana mestinya.

Berbangga Dengan Nasab dan Mencela Keturunan
Nabi ﷺ memperingatkan umatnya agar menjauhi akhlak jahiliyah yang rusak. Beliau ﷺ bersadba,
أَرْبَعٌ في أمَّتِي مِنْ أمْرِ الجَاهِلِيَّةِ لا يَتْرُكُوهُنَّ: الفَخْرُ في الأَحْسَابِ، والطَّعْنُ في الأَنْسَابِ، والاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّياحَةُ
“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR. Muslim no. 934).
Termasuk budaya Arab jahiliyah juga adalah berbangga sebagai pengurus dan memimpin Masjid al-Haram. Kaum Quraisy dan musyrikin Mekah membangga-banggakannya di hadapan Arab lainnya.
مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سامِرًا تَهْجُرُونَ
“dengan menyombongkan diri terhadap Alquran itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari.” (QS:Al-Mu’minuun | Ayat: 67).
Kebanggaan yang dimaksud adalah kesombongan. Abdullah bin al-Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan, “Mereka menyombongkan diri dengan Ka’bah. Mereka mengatakan, ‘Kami adalah ahli (yang mengurusi) Ka’bah’ (HR. an-Nasai 11351 dan al-Hakim 3487. Al-Hakim mengatakan, ‘Hadits ini sanadnya shahih’. Dan disepakati oleh adz-Dzahabi).

Meremehkan dan Menghina Orang Miskin dan Lemah
Orang-orang Arab jahiliyah menghina orang miskin dan lemah. Allah ﷻ berfirman,
وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلاَءِ مَنَّ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ
Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” (QS:Al-An’am | Ayat: 53).
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ berkhotbah di hadapan orang-orang pada hari pembebasan Kota Mekah, beliau mengatakan,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا، فَالنَّاسُ رَجُلاَنِ: بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللهِ، وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللهِ، وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ، وَخَلَقَ اللهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ”، قَالَ اللهُ: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghapus kesombongan jahiliyah dan membangga-banggakan leluhur. Manusia itu hanya ada dua: (1) orang baik, bertakwa kepada Allah lagi mulia dan (2) orang yang fajir, celaka lagi hina di sisi Allah. Manusia adalah anak Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah Ta’ala berfirman,
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS:Al-Hujuraat | Ayat: 13). (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, Bab fi at-Tafakhur bil Ahsab, No: 5116, at-Turmudzi No: 3956, dan Ahmad No: 8721. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ No: 1787).
Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha menuturkan,
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها، قَالَتْ: “أَسْلَمَتِ امْرَأَةٌ سَوْدَاءُ لِبَعْضِ العَرَبِ وَكَانَ لَهَا حِفْشٌ  فِي المَسْجِدِ، قَالَتْ: فَكَانَتْ تَأْتِينَا فَتَحَدَّثُ عِنْدَنَا، فَإِذَا فَرَغَتْ مِنْ حَدِيثِهَا قَالَتْ:
“Ada seorang wanita berkulit hitam yang bekerja dengan beberapa orang Arab yang telah masuk Islam. Wanita ini memiliki rumah kecil lagi sempit di dekat masjid. Aisyah radliallahu ‘anha melanjutkan; Dia pernah datang lalu bercerita di hadapan kami. Jika telah selesai dari ceritanya dia bersya’ir
وَيَوْمُ الوِشَاحِ مِنْ تَعَاجِيبِ رَبِّنَا *** أَلاَ إِنَّهُ مِنْ بَلْدَةِ الكُفْرِ أَنْجَانِي
Peristiwa selendang adalah salah satu dari keajaiban Rabb kami
Sungguh peristiwa itu terjadi di negeri kafir yang kemudian Allah menyelamatkanku
Ketika dia terus bersyair, Aisyah mengatakan, “Apakah hari selendang itu?”
Wanita itu berkata, “Pernah ada seorang anak wanita menemui beberapa orang keluargaku. Anak itu membawa selendang yang terbuat dari kulit. Kemudian selendang tersebut terjatuh. Tiba-tiba seekor burung menyambar dan mengambilnya, karena mengira selendang itu daging. Tapi orang-orang menuduhku dan menyiksaku hingga mereka menggeladahku dari bagian depanku. Ketika mereka berada di sekelilingku, dan aku dalam keadaan gundah tiba-tiba burung itu datang dan dan berputar-putar di atas kepala kami, kemudian melemparkan selendangnya. Orang-orang mengambil selendang tersebut. Kukatakan pada mereka, ‘Itulah yang kalian tuduhkan padaku, padahal aku berlepas diri dari tuduhan itu’.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadha-il ash-Shahabah, Bab Ayyam Al-Jahiliyah, No: 3623).
Kisah ini menunjukkan sikap masyarakat jahiliyah yang meremehkan orang-orang lemah. Ketika orang lemah bersalah, maka langsung dihakimi begitu saja.
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّ أَهْلَ الإِسْلاَمِ لاَ يُسَيِّبُونَ، وَإِنَّ أَهْلَ الجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يُسَيِّبُون
“Orang-orang Islam itu tidak suka mencela. Dan budaya orang-orang jahiliyah itu suka mencela.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Fara-idh, Bab Mirats as-Sa-ibah, No: 6327).
Sebagian orang sibuk dengan budaya atau kebiasaan Arab yang tidak menggerus karakter bangsa. Seperti pakaian. Padahal sejak masa Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dll. pakaian seperti itu telah dikenal. Dan terbukti tidak berbahaya dengan keutuhan Indonesia. Malah mereka memperjuangkan tanah air ini. Namun mereka lupa dengan budaya Arab jahiliyah yang berbahaya. Lihatlah generasi kita sekarang terbiasa dengan mem-bully dan menghina orang-orang lemah dan miskin.
Abu Hayyan rahimahullah menafsirkan ayat
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرً
“dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS:Al-Israa’ | Ayat: 26).
Allah Ta’ala melarang pemborosan. Dulu, orang-orang jahiliyah menyembelih hewan dengan cara membacok. Dan ini dilarang syariat. Mereka menghamburkan harta (boros) untuk berbangga dan didengar orang. Mereka sebutkan hal itu dalam bait-bait syair. Dan Allah ﷻ melarang mengeluarkan harta yang bukan untuk kebaikan. Serta bukan untuk mendekatkan diri kepada-Nya (Abu Hayyan dalam Tafsir al-Bahr al-Muhith, 7/40).
Budaya-budaya Arab jahiliyah ini masih ada di masyarakat Arab sekarang dan juga Indonesia. Hendaknya yang demikian lebih menjadi sasaran perbaikan.

Membunuh Anak Perempuan
Orang-orang Arab jahiliyah memiliki rasa malu dan harga diri yang tinggi. Mereka tidak bisa menerima jika salah seorang anggota keluarga dilecehkan. Aib yang diterima salah seorang anggota keluarga adalah aib keluarga. Oleh karena itu, peperangan sering terjadi karena salah seorang anggota kabilah dihina. Bagi keluarga yang lemah, mereka akan dikuasai. Ketika dikuasai, artinya siap-siap dilecehkan.
Anak-anak perempuan tidak bisa mereka andalkan untuk membela keluarga. Menurut mereka, semakin banyak anggota keluarga perempuan, semakin lemah kabilah. Ketika lemah, maka para perempuan akan tertawan dan menjadi hina dengan perbudakan. Mereka tidak sanggup menahan rasa malu itu. Hingga mereka bunuh anak-anak perempuan mereka sebelum hal itu jadi kenyataan. Allah ﷻ berfirman,
وَإِذَا الْمَوْؤُدَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ
“Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.” (QS:At-Takwiir | Ayat: 8-9).
وَإِذا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِما ضَرَبَ لِلرَّحْمنِ مَثَلاً ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ
“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.” (QS:Az-Zukhruf | Ayat: 17).
وَإِذا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأُنْثى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوارى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ ما بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرابِ أَلا ساءَ ما يَحْكُمُونَ
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS:An-Nahl | Ayat: 58)
عَنْ أُمَيْمَةُ بِنْتُ رُقَيْقَةَ أنها جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُبَايِعُهُ عَلَى الْإِسْلَامِ فَقَالَ أُبَايِعُكِ عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكِي بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقِي وَلَا تَزْنِي وَلَا تَقْتُلِي وَلَدَكِ وَلَا تَأْتِي بِبُهْتَانٍ تَفْتَرِينَهُ بَيْنَ يَدَيْكِ وَرِجْلَيْكِ وَلَا تَنُوحِي وَلَا تَبَرَّجِي تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى.
Umaimah binti Ruqaiqah radhiyallahu ‘anha mendatangi Rasulullah ﷺ untuk membaiat beliau atas Islam. Lalu beliau bersabda, “Aku membaiatmu untuk tidak menyekutukan Allah  dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak datang membawa kebohongan yang kamu bohongkan didepan tangan dan kakimu, tidak berbuat niyahah (meratapi mayit), dan tidak berhias seperti orang-orang jahiliyyah dahulu.” (HR. Ahmad 6850).

Pergaulan Bebas Ala Jahiliyah
Ada beberapa bentuk hubungan laki-laki dan perempuan di masa jahiliyah. Ada yang sah dan dilanggengkan oleh syariat Islam. Seperti pernikahan yang sekarang kita kenal. Ada juga pergaulan bebas antara laki-laki dan wanita yang diharamkan hingga seakrang. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha tentang pergaulan laki-laki dan perempuan di masa jahiliyah. Ada 3 bentuk pergaulan bebas di masa jahiliyah: (1) Nikah istibdha. Perzinahan yang bertujuan untuk memperbaiki keturunan. (2) Nikah ar-Rahthu. Pergaulan bebas yang kita kenal dengan istilah “kumpul kebo”. (3) Nikah dzawatu rayah. Yang hari ini kita sebut dengan pelacuran.
Dari Aurah bin az-Zubari, Aisyah radhiallahu ‘anha, istir Nabi ﷺ, bercerita kepada Aurah. Kata Aisyah:
Nikah di zaman jahiliyah ada 4 macam:
Pertama: nikah yang kita kenal pada hari ini (setelah Islam datang). Seorang laki-laki meminang wanita atau anak perempuan kepada walinya, lalu membayar mahar, kemudian menikahinya.
Kedua: Bentuk pernikahan yang lain yaitu seorang laki-laki berkata kepada istrinya, ketika istrinya itu telah suci dari haidl, “Pergilah kepada si Fulan, kemudian mintalah untuk dikumpulinya”, dan suaminya sendiri menjauhinya, tidak menyentuhnya sehingga jelas istrinya itu telah mengandung dari hasil hubungannya dengan laki-laki itu. Kemudian apabila telah jelas kehamilannya, lalu suaminya itu melanjutkan mengumpulinya apabila dia suka. Dan hal itu diperbuat karena keinginan untuk mendapatkan anak yang cerdas (bibit unggul). Nikah semacam ini disebut nikah istibdha’.
Ketiga: Kemudian bentuk yang lain, yaitu sejumlah laki-laki, kurang dari 10 orang berkumpul, lalu mereka semua mencampuri seorang wanita. Apabila wanita tersebut telah hamil dan melahirkan anaknya, selang beberapa hari perempuan itu memanggil mereka dan tidak ada seorang pun diantara mereka yang dapat menolak panggilan tersebut sehingga merekapun berkumpul di rumah perempuan itu. Kemudian wanita itu berkata kepada mereka, “Sungguh kalian semua telah mengetahui urusan kalian, sedang aku sekarang telah melahirkan, dan anak ini adalah anakmu hai fulan”. Dan wanita itu menyebut nama laki-laki yang disukainya, sehingga dihubungkanlah anak itu sebagai anaknya, dan laki-laki itupun tidak boleh menolaknya.
Keempat: Bentuk keempat yaitu, berhimpun laki-laki yang banyak. Lalu mereka mencampuri seorang wanita yang memang tidak akan menolak setiap laki-laki yang mendatanginya. Sebab mereka itu adalah pelacur-pelacur yang memasang bendera-bendera di muka pintu sebagai tanda. Siapa saja yang menginginkannya boleh masuk. Kemudian jika salah seorang di antara wanita itu ada yang hamil dan melahirkan anaknya, maka para laki-laki tadi berkumpul di situ. Dan mereka pun memanggil orang-orang ahli firasat, lalu dihubungkanlah anak itu kepada ayahnya oleh orang-orang ahli firasat itu menurut anggapan mereka. Maka anak itu pun diakuinya, dan dipanggil sebagai anaknya, dimana orang (yang dianggap sebagai ayahnya) itu tidak boleh menolaknya.
Kemudian setelah Allah mengutus Muhammad ﷺ sebagai Rasul dengan jalan kebenaran, beliau menghapus pernikahan model jahiliyah tersebut keseluruhannya, kecuali pernikahan sebagaimana yang berjalan sekarang ini. (HR. Bukhari dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 6, hal. 178-179).
Perhatikan bentuk pernikahan yang ketiga (kumpul kebo) dan yang keempat (pelacuran). Dalam hal ini, orang jahiliyah lebih mending dibanding sebagian orang saat ini. Wanita-wanita yang melakukan kumpul kebo dan pelacuran di masa jahiliyah lebih memiliki kehormatan dan kedudukan dibanding wanita yang melakukan kumpul kebo dan pelacuran di zaman sekarang.
Bayangkan! Di zaman jahiliyah pelacur sekalipun masih bisa meminta pertanggung-jawaban laki-laki yang telah berhubungan dengan mereka. Yang hal itu tidak mampu dilakukan wanita serupa pada hari ini. Artinya wanita itu lebih dihargai. Dan laki-laki di masa itu memiliki tanggung jawab dan harga diri. Mereka malu menolak tugas pengasuhan anak walaupun pengasuhan itu membutuhkan biaya.
Orang-orang di masa jahiliyah juga menikahi wanita bersaudara, yang keduany masih hidup. Mereka menikahi ibu tiri mereka ketika sudah dicerai atau sang ayah wafat.
Abdullah bin al-Abbas radhiallahu ‘anhuma menafsirkan ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 19).
Apbila seseorang wafat, maka keluarganya adalah orang yang paling berhak atas istrinya. Jika salah seorang dari keluarganya mau, mereka bisa menikahinya. Jika semuanya mau, mereka juga bisa menikahinya. Jika mereka tidak mau, mereka tidak menikahinya. Pihak keluarga suami ini, lebih berhak terhadap si wanita dibanding keluarga wanita itu sendiri. Kemudian Allah ﷻ turunkan ayat ini.”
Dalam riwayat Abu Dawud, Abdullah bin al-Abbas menafisrikan ayat ini:
لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلاَّ أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ
“Tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 19).
Dulu, seorang laki-laki mendapat waris dari kerabatnya, istri-istri mereka. Warisannya adalah seorang wanita hingga ia wafat. Atau wanita itu menebus dirinya. Kemudian Allah ﷻ memberi keputusan pelarangan hal itu (HR. Abu Dawud dalam Kitab an-Nikah, Bab Qouluhu Ta’ala “لا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلا تَعْضُلُوهُنَّ”, No: 2090. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, 6/325).

Penutup
Inilah beberapa contoh akhlak jahiliyah. Umar bin al-Khattab mengatakan,
قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إنَّمَا تُنْقَضُ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً إذَا نَشَأَ فِي الْإِسْلَامِ مَنْ لَمْ يَعْرِفْ الْجَاهِلِيَّةَ
“Sesungguhnya ikatan Islam akan terurai satu per satu, apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyah.”
Mengapa? Karena orang yang tidak mengetahui akhlak buruk jahiliyah, kemungkinan besar ia akan jatuh ke dalamnya. Realita kita sekarang telah membuktikan apa yang diucapkan Umar.
Sumber:
– http://islamstory.com/ar/أخلاق-العرب-قبل-الإسلام
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com