Selasa, 24 Mei 2016

Shalatnya Abu Bakar As-Shiddiq رضي الله عنه

Beliau radhiyallahu ‘anhu termasuk kalangan orang-orang shalih, sekaligus salah satu dari sahabat utama yang dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, imam yang utama dari sejumlah sahabat yang lainnya.
Beliau telah menghabiskan hidup dan segenap jiwa raganya, harta kekayaannya serta waktunya untuk diinfakkan dan berjihad di jalan Allah. Termasuk memberikan pelayanan dalam dakwah dan penyampaian wahyu.

Dialah sahabat Abu Bakar yang nama lengkapnya Abdullah bin Abi Quhafah Al Qurasyi At Tamimiyang terkenal dengan sebutan Abu Bakar Asy Syiddiq.
Beliau sangat mudah mencucurkan air mata saat membaca Al Quran dalam shalatnya. Hal ini disebabkan karena banyaknya pengalaman hidup beliau bersama Al Quran. Sehingga beliau tidak mampu menahan perasaannya dari kejadian kejadian yang pernah dialaminya ketika membaca Al Quran.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Mereka melalui Abu Bakar yang sedang shalat bersama dengan yang lainnya.”Aisyah menuturkan, Saya pun berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Wahai Rasulullah, sesungguhnyaAbu Bakar adalah seorang laki laki yang lembut hatinya, apabila telah membaca Al Quran beliau tidak mampu menahan cucuran air mata dari keduanya.” (HR Muslim)
Adapun kekhusyukan beliau serta tangisan beliau di dalam shalat, benar-benar berpengaruh besar kepada orang-orang di sekelilingnya.Hal ini menyebabkan orang-orang Quraisy yang menguasai Mekah pada waktu itu mengajukan sejumlah syarat kepada beliau ketika beliau menunaikan shalat.
Akhirnya kaum kafir Quraisy menemui Ibnu Ad Daghinah yang saat itu memberikan jaminan keamana kepada Abu BakarAsh Shiddiq. Mereka berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Ad Daghinah, suruhlah Abu Bakar untuk beribadah kepada Rabbnya di rumahnya, hendaklah dia shalat dan membaca apa yang dia kehendaki dan janganlah dia menyakiti kami. Sesungguhnya kami khawatir perkara itu menjadi fitnah bagi anak dan istri kami.”
Ibnu Ad Daghinah pun mengatakan hal itu kepada Abu Bakar, sehingga beliau mulai beribadah kepada Allah di rumahnya, dengan tidak mengeraskan shalatnya begitupun dengan bacaannya.
Kemudian Abu Bakar mulai membangun sebuah masjid di halaman rumahnya, beliau shalat dan membaca Al Quran di masjid itu. Pada saat itu, berkumpullah istri-istri dari kalangan orang musyrik dan anak-anak mereka, mereka begitu kagum akan shalat yang didirikan Abu Bakar dengan terus memperhatikannya. Abu Bakar adalah seorang laki laki yang sering menangis, beliau tidak bisa menahan air matanya ketika membaca AL Quran (Kisah ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Ibnu Hiban)
Sahl bin Sa’d dia berkata, “Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak pernah melirik ketika dalam shalat.”(Fadhail Ash Shahabat I/208, Imam Ahmad)
Mujahis menuturkan, “Keadaan Ibnu Az Zubair ketika dia berdiri menunaikan shalat, seperti sebuah kayu yang kokoh (tidak bergerak).” Dikisahkan pula bahwa Abu Bakar pun seperti itu ketika shalat. Abdurrazaq berkata, “Penduduk Mekah menuturkan bahwa Ibnu Zubair mencontohshalat dari Abu Bakar, dan Abu Bakar mencontohnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fadhail Ash Shahabat I/208, Imam Ahmad)
***
Artikel www.kisahMuslim.com di-publish ulang dari muslimah.or.id
disalin dari buku Shalatnya Para Kekasih Allah karya Ahmad Musthafa Ath Thathawi (Terjemah dari bukuShalat Ash Shalihin wa Qishash Al ‘Abidin)
https://kisahmuslim.com/155-beginilah-shalat-abu-bakar-ash-shiddiq.html

LELAKI ANSHAR DENGAN TIGA ANAK PANAH

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari, dia berkata, “Dalam suatu peperangan kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju salah satu daerah orang musyrik. Kami berhasil menawan istri salah seorang di antara mereka, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali.
Tidak lama kemudian, suami perempuan tersebut datang, kemudian diceritakan kepadanya tentang keadaan yang terjadi. Suaminya bersumpah, bahwa ia tidak akan pulang ke rumah sehingga dapat melukai para sahabat Nabi.

Ketika Rasulullah sedang dalam sebuah perjalanan, beliau berhenti di suatu perkampungan lalu bertanya, ‘Siapakah dua orang di antara kalian yang bersedia agar nanti malam menjaga kami dari serangan musuh?’ Seorang lelaki dari kaum Muhajirin dan seorang lelaki dari Anshar menjawab, ‘Kami berdua akan menjaga engkau, wahai Rasulullah.’
Dua orang lelaki tersebut berangkat menuju mulut gang perkampungan tanpa disertai seorang pengawal pun.
Lelaki Anshar bertanya kepada lelaki Muhajirin, ‘Kamu dulu yang akan berjaga lalu aku ataukah aku dulu lalu kamu?’
Lelaki Muhajirin menjawab, ‘Kamu dulu saja. Aku belakangan.’
Lalu lelaki Muhajirin tidur, sedangkan lelaki Anshar mulai berdiri untuk qiyamullail, ia membaca ayat-ayat Al-Quran.
Di tengah-tengah membaca ayat Al-Quran di dalam qiyamullail itu, suami perempuan musyrik tersebut datang. Ketika ia melihat ada seorang lelaki yang sedang berdiri (tidak tidur), ia menyangka pasti dia pemimpin mereka. Lalu, dengan cepat ia mengambil panah dan melepaskan ke arah lelaki yang sedang shalat hingga mengenainya. Lelaki Anshar itu mencabutnya dan dia tidak bergeser sedikit pun, karena tidak ingin memutus bacaan Al-Qurannya.
Lalu suami perempuan musyrik itu mengambil satu panah lagi dan dibidikkannya ke arah lelaki Anhsar, tetapi ia kembali mencabutnya tanpa memutuskan shalatnya dan bacaan al-Qurannya. Suami perempuan musyrik itu mengulangi, untuk yang ketiga kalinya, melepas panah ke arah lelaki yang sedang berdiri melaksanakan qiyamullail. Ia kembali mencabut anak panah, meletakkannya dan melanjutkannya dengan rukuk dan sujud. Seusai shalat, lelaki Anshar itu membangunkan lelaki Muhajirin yang sedang tidur sambil berkata, ‘Bangun!, sekarang tiba giliranmu.’ Kemudian lelaki Muhajirin bangun dan duduk.
Ketika suami perempuan musyrik melihat ada dua orang berjaga, yang satu menolong kawannya, ia mengetahui bahwa nazarnya telah terpenuhi.
Ternyata, dari tubuh lelaki Anshar itu mengalir darah karena terkena panah suami perempuan musyrik tadi.
Lelaki Muhajirin berkata kepada kawannya, ‘Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosamu, mengapa kamu tidak memberi tahu aku pada saat panah pertama mengenai tubuhmu?’
Lelaki Anshar menjawab, ‘Ketika itu, aku tengah membaca salah satu surat Al-Quran dalam qiyamullail-ku. Aku enggan menghentikan bacaanku. Dan demi Allah, sekiranya aku bergeser, berusaha meninggalkan benteng pertahanan yang Rasulullah memerintahkan agar dijaga, pastilah aku binasa sebelum aku menghentikan bacaan Al-Quranku tadi.’” (Shifatush Shofwah, 1/773)
Sumber: 99 Kisah Orang Shalih, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq, Cetakan ke-5, Shafar 1430/2009.
Artikel www.KisahMuslim.com dengan penataan bahasa oleh tim redaksi.

Senin, 23 Mei 2016

Mari Mengenal Ruqayyah, Putri Rasulullah ﷺ

Di dalam Islam, keluarga Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan yang istimewa. Umat ini menyebut keluarga mulia ini dengan ahlul bait. Anak dan istri Rasulullah ﷺ, keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas, merekalah ahlul bait itu. Beliau ﷺ berpesan,
وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي
“Dan terhadap ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku.” (HR. Ahmad, No.18464).
Sebuah pesan yang dalam sehingga beliau merasa perlu mengulanginya tiga kali agar benar-benar diperhatikan.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: “Sungguh aku lebih senang menyambung tali kekerabatan kepada keluarga Rasulullah ﷺ daripada keluargaku sendiri.” (HR. Bukhari, No. 3712).
Jika kita hendak mengamalkan pesan Nabi. Atau meneladani Abu Bakar. Salah satu langkah yang bisa kita tempuh adalah dengan mengenal anggota keluarga beliau ﷺ. Di antara anggota keluarga beliau adalah Ruqayyah binti Muhammad ﷺ.

Mengenal Ruqayyah, Putri Rasulullah
Ruqayyah adalah putri dari penghulu manusia dan utusan Allah ﷻ yang paling utama, Muhammad bin Abdullah ﷺ. Sedangkan ibunya adalah wanita terbaik, Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha.
Putri Nabi ini lahir saat Rasulullah berusia 33 tahun.
Rasulullah menikahkan putrinya ini dengan Utbah bin Abu Lahab. Pernikahan yang dilangsungkan saat usianya belum genap 10 tahun. Demikianlah kultur saat itu. Penikahan berlangsung di usia muda. Nabi juga menikahkan putri beliau yang lain, Ummu Kultsum, dengan Utaibah bin Abu Lahab. Pada saat turun surat al-Masad atau al-Lahab yang mencela kekufuran Abu Lahab.
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Hingga ayat terakhir…
Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil binti Harb, berkata kepada kedua putranya, “Ceraikanlah putri-putri Muhammad!”
Keduanya pun menceraikan putri beliau sebelum mencapurinya. Ini adalah kemuliaan dari Allah. Kemudian ia menikah dengan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.

Memeluk Islam dan Hijrah ke Habasyah
Ruqayyah memeluk Islam ketika ibunya, Khadijah binti Khuwailid beriman kepada suaminya. Kemudian Rasulullah ﷺ membaiat Ruqayyah dan saudari-saudarinya bersama wanita-wanita lain yang baiat kepada Nabi. Saat itu ia baru berusia 7 tahun.
Kunyahnya adalah Ummu Abdillah. Dan juga disebut Dzu Hijratain, karena turut serta dalam dua kali hijrah. Ke Habasyah dan ke Madinah.
Saat Utsman hendak hijrah ke Habasyah, Rasulullah berkata padanya, “Bawa sertalah Ruqayyah bersamamu.”
Rombongan ini terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang wanita. Mereka dipimpin oleh Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Bakar menyifati keduanya:
يا أبا بكر، إنهما لأول من هاجر بعد لوط وإبراهيم عليهما الصلاة والسلام
“Wahai Abu Bakar, keduanya adalah orang pertama yang berhijrah di jalan Allah setelah Luth dan Ibrahim ‘alaihimassalaam.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak 6849).

Pernikahan dengan Utsman
Kesabaran senantiasa berbuah indah, di dunia atau di akhirat. Allah ﷻ gantikan musibah karamnya biduk rumah tangga Ruqayyah di masa silam dengan ganti yang jauh lebih mulia. Ia berjodoh dengan laki-laki mulia dan shaleh. Dialah yang termasuk 8 orang pertama yang memeluk Islam. Seorang yang dikabarkan menjadi ahli surga saat masih menghela nafas di dunia. Ruqayyah menikah dengan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu.
Selain kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya, Utsman bin Affan juga memiliki keutamaan lainnya. Ia adalah salah seorang pemuda Quraisy yang terkaya, tampan, mulia, dan dermawan. Sekarang, keutamaan itu kian bertambah. Ia dianugerahi wanita shalihah, Ruqayyah putri Rasulullah ﷺ. Dari pernikahan ini, keduanya dianugerahi seorang putra. Yang mereka namai Abdullah. Ruqayyah pun dikenal dengan Ummu Abdullah (al-Hakim dalam al-Mustadrak 6850).

Wafat
Saat kaum muslimin bersiap berangkat, mencegat kafilah dagang Quraisy di Badar, Utsman bin Affan radhiallahu mohon izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tak turut serta. Ia ingin mendampingi istrinya yang tengah sakit. Rasulullah ﷺ mengizinkannya.
Ketika Zaid bin Haritsah masuk ke Madinah menyampaikan kabar gembira tentang kemengan di Badar, saat itu pula kabar duka mengaduk suasana. Putri Rasulullah ﷺ wafat di sisi suaminya, Utsman bin Affan. (Ibnu Hibban dalam ats-Tsiqat, 2/144).
Ruqayyah wafat pada usia 22 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi’ al-Gharqad, Madinah.
Semoga Allah merahmati Ruqayyah, putri Rasulullah. Ia adalah wanita pahlawan dua hijrah. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada ayahnya dan seluruh keluarganya. Dan juga memberi rahmat kepada ibunya, Khadijah.
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Kamis, 05 Mei 2016

Zamanuka Bustanun (Zamanmu bagaikan taman)


Nasyid Ost Shalahuddin Al-Ayyubi


Zamanuka Bustanun
(Zamanmu bagaikan taman)
Zamanuka bustanun, wa ‘ashruka akhdhorun
(Zamanmu bagaikan taman, dan masamu bagaikan taman yang menghijau)
Wa dzikrooka ‘usfurun minal qolbi yanquru
(Dan mengingatmu bagaikan burung yang mematuk dari hati)
Dakholta ‘ala taariikhinaa dzaata lailatin
(Engkau telah masuk ke dalam sejarah kami di suatu malam)
Faroo-ihatuttaarikhi miskun wa ‘anbaru
(Harumnya sejarah bagaikan minyak misk dan ambar)
Rifaaquka fil abwaari syadduu suruujahum
(Menemanimu dalam goa-goa bagaikan mengencangkan pelana)
Wa junduka fii hittina sholluu wa kabbaruu
(Dan pasukanmu di Hittin berdoa dan bertakbir)
Ta-akh-khorta ‘annaa faljiyaadu haziinatun
(Kedatanganmu yang tertunda membuat kuda-kuda bersedih)
Wa saifuka min asywaaqihi kaa da yunharu
(Dan pedangmu hampir menyembelih dalam kerinduan)
Zamanuka bustanun, wa ‘ashruka akhdhorun
(Zamanmu bagaikan taman, dan masamu bagaikan taman yang menghijau)
Wa dzikrooka ‘usfurun minal qolbi yanquru
(Dan mengingatmu bagaikan burung yang mematuk dari hati)
Dakholta ‘ala taariikhinaa dzaata lailatin
(Engkau telah masuk ke dalam sejarah kami di suatu malam)
Faroo-ihatuttaarikhi miskun wa ‘anbaru
(Harumnya sejarah bagaikan minyak misk dan ambar)
Hishoonuka fii sainaa-a yasyrobu dam’ahu
(Kudamu di Sinai hampir meminum air matanya)
Wa yaali’adzaabil khoili idztatadzakkaru
(Dan kuda-kuda bersedih mengingatmu)
Wa yabkiika shofshoofusy sya-ami wa wurduHaa
(Dan pohon dedalus Syam juga bunganya menangisimu)
Wa yabkiika zaHrul ghouthotaini wa tadmuru
(Dan bunga Ghauta sampai hancur menangisimu)
Mau mp3nya? Klik Disini
Barakallahufiikum

Rabu, 27 April 2016

Kisah Anak yang Melakukan Qiyamul lail

 Syekh Ibnu Zhafar al-Makki mengatakan, 

“Saya dengar bahwa Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Busthami radhiyallahu ‘anhu ketika menghafal ayat berikut:
Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al-Muzzammil: 1-2)
Dia berkata kepada ayahnya, ‘Wahai Ayahku! Siapakah orang yang dimaksud Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Yang dimaksud ialah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai Ayahku! Mengapa engkau tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya qiyamul lail terkhusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diwajibkan baginya tidak bagi umatnya.’ Lalu dia tidak berkomentar.”
“Ketika dia telah menghafal ayat berikut:
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.’ (QS. Al-Muzzammil: 20)
Lalu dia bertanya, ‘Wahai Ayahku! Saya mendengar bahwa segolongan orang melakukan qiyamul lain, siapakah golongan ini?’ Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Mereka adalah para sahabat –semoga ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu terlimpa kepada mereka semua.’ Dia bertanya lagi, ‘Wahai ayahku! Apa sisi baiknya meninggalkan sesuatu yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya?’ Ayahnya menjawab, ‘Kamu benar anakku.’ Maka, setelah itu ayahnya melakukan qiyamul lail dan melakukan shalat.”
“Pada suatu malam Abu Yazid bangun, ternyata ayahnya sedang melaksanakan shalat, lalu dia berkata, ‘Wahai ayahku! Ajarilah aku bagaimana cara saya bersuci dan shalat bersamamu?’ Lantas ayahnya berkata, ‘Wahai anakku! Tidurlah, karena kamu masih kecil.’ Dia berkata, ‘Wahai Ayahku! Pada hari manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya, saya akan berkata kepada Rabbku, ‘Sungguh, saya telah bertanya kepada ayahku tentang bagaimana cara bersuci dan shalat, tetapi ayah menolak menjelaskannya. Dia justru berkata, ‘Tidurlah! Kamu masih kecil’ Apakah ayah senang jika saya berkata demikian?’.” Ayahnya menjawab, ‘Tidak. Wahai anakku! Demi Allah, saya tidak suka demikian.’ Lalu ayahnya mengajarinya sehingga dia melakukan shalat bersama ayahnya.”
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Artikel www.KisahMuslim.com 
            / Sumber Link Utama

George bin Todzira

    Hidayah itu Datang Saat di Medan Perang

Memang hidayah itu istimewa. Ia mahal dan berharga. Kedudukan dan status sosial bukanlah ukuran mendapatkannya. Gelimang harta bukanlah sarana bisa mendapatkannya. Terkadang, ia pun datang di saat yang tak disangka. Ia datang di saat yang menyerunya mungkin sudah putus asa. Ia datang, kadang di saat musibah. Dan ia datang ketika permusuhan sudah mencapai puncaknya.
Seperti kisah George Todzira. Hidayah datang padanya justru saat ia tengah siap berperang.
George bin Todzira adalah panglima pasukan Bizantium. Di Perang Yarmuk, ia memimpin pasukan Roma, berperang menghadapi umat Islam yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu. Sebelum pecah pertempuran, terjadi kejadian yang menarik. George berdialog dengan Khalid hingga ia memeluk Islam dan berpindah posisi menjadi pasukan kaum muslimin.
Dalam kondisi demikian, bayangkan apa yang dirasakan pasukan Romawi Bizantium saat itu? Tentu moral pertempuran mereka kaget dan mengendur. Dan pastinya, George adalah orang pertama yang hendak mereka bunuh.

Ketika pasukan tengah bertemu, George memanggil Pedang Allah, Khalid bin al-Walid. Khalid pun keluar dari pasukan, dan Abu Ubaidah menggantikan posisinya. Di tengah ribuan pasukan, kedua panglima perang itu berdiri berhadap-hadapan. Hingga leher tunggangan mereka bertautan.
George berkata, “Wahai Khalid, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Jangan berbohong, karena orang yang merdeka tidak pantas berbohong. Jangan pula kau tipu aku, karena orang yang mulia tidak akan menipu”. George melanjutkan, “Apakah Allah menurunkan pedang dari langit kepada Nabi kalian, lalu ia memberikannya kepadamu? Kemudian tidaklah pedang itu berjumpa dengan suatu kaum, kecuali ia berhasil mengalahkannya?
“Tidak”, jawab Khalid singkat.
“Lalu mengapa engkau disebut dengan saifullah (Pedang Allah)?” Tanya George yang benar-benar menginginkan jawaban.
Khalid menjawab, “Sesungguhnya Allah ﷻ mengutus Nabi-Nya ke tengah-tengah kami. Ia mendakwahi kami, namun kami semua lari tak mengacuhkannya. Lalu sebagian kami ada yang membenarkan dakwahnya dan mengikutinya. Sementara yang lain menjauhi dan mendustakannya. Aku termasuk orang yang menjauhi, mendustakan, dan memeranginya. Setelah itu, Allah memberi hidayah kepada kami. Kami pun mengikuti ajarannya. Ia berkata kepadaku, ‘Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang ia hunuskan kepada orang-orang musyrik. Ia mendoakanku dengan kemenangan. Lalu melaqobiku dengan saifullah. Dari situlah, aku menjadi orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang musyrik”.
“Engkau telah jujur kepadaku”, sambut George menanggapi penjelasan Khalid.
Lalu ia kembali bertanya kepada Khalid, “Wahai Khalid, beri tahu aku, apa engkau serukan padaku?”
“Kepada persaksian bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Dan meyakini bahwa apa yang ada padanya (wahyu) adalah dari sisi Allah” Khalid menerangkan risalah Islam kepada George.
“Kalau orang tidak menerima seruan kalian itu?” tanya George.
“Jizyah menjamin mereka”, jawab Khliad.
“Bagaimana kalau mereka tidak mau menyerahkannya (jizyah)? tanya George.
“Kami perangi mereka”, jawab Khalid
“Bagaimana kedudukan orang-orang yang menerima seruan kalian?” tanya George.
“Kedudukan kami sama (setara) dalam kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan kepada kami. Baik orang yang mulia atau orang biasa. Baik yang awal (memeluk Islam) dan yang terakhir”, jawab Khalid.
George kembali mengajukan pertanyaan, “Apakah orang yang hari ini memeluk Islam –wahai Khalid- sama pahala dan ganjarannya?”
“Iya, bahkan bisa jadi lebih utama”, jawab Khalid.
Dengan nada heran, George kembali bertanya, “Bagaimana bisa ia sama dengan kalian, padahal kalian lebih dulu memeluk Islam?”
“Kami memeluk Islam dan berbaiat kepada nabi kami, di saat kami menjumpainya. Datang padanya kabar-kabar tentang kitab-kitab, lalu ia memperlihatkan tanda-tanda (kebesaran Allah) pada kami. Orang yang melihat apa yang kami lihat dan mendengar apa yang kami dengar membenarkannya, berislam, dan membaiatnya. Adapun kalian, kalian belum pernah menjumpai apa yang kami jumpai. Belum pernah mendengar apa telah kami dengar berupa mukjizat dan hujjah. Kalau kalian memeluk Islam dengan tulus dan sebenar-benarnya. Tentu lebih baik dari kami.” Jawab Khalid berusaha mengurai kebingungan George.
“Demi Allah, engkau berkata jujur, tidak menipuku, dan tidak berpura-pura padaku kan?” tanya George berusaha mendapatkan jawaban yang pasti.
Khalid menjwab, “Demi Allah, aku telah berucap jujur padamu. Aku tidak berkepentingan apapun padamu atau salah seorang dari kalian. Sesungguhnya Allah menjadi saksi atas apa yang engkau tanyakan padaku.”
George berkata, “Engkau telah jujur padaku.” Saat itu, George yang masih dalam persiapan berperang mulai luluh hatinya tatkala mendengar penjelasan dan seruan Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu. Hatinya bergetar dan cenderung kepada Khalid. Kemudian, di tengah medan perang dan posisi siap berperang, George mengucapkan perkataan yang mengejutkan, “Ajarkanlah aku tentang Islam”, pintanya.
Lalu Khalid mengajaknya ke tendanya. Menyediakan air untuknya bersuci. Kemudian George menunaikan shalat dua rakaat. George telah memeluk Islam. Khalid bin al-Walid dan para sahabat Nabi memberikan teladan bahwa berangkat ke medan perang bukanlah semata-mata untuk membunuh orang. Tapi tujuan utamanya adalah memberikan hidayah. Inilah bedanya jalan para sahabat dengan orang-orang yang terlibat aksi terorisme. Tujuan mereka membunuh, bukan memberi hidayah.
Keluar dari Bizantium dengan permusuhan yang memuncak dan memimpin pasukan untuk memerangi Islam dan kaum muslimin, ternyata saat itulah hidayah datang kepadanya. Oleh karena itu, janganlah kita berputus asa. Sebagaimana Khalid masih mengharapkan hidayah kepala pasukan yang hendak membunuh dan memeranginya.
George berbalik posisi. Ia berdiri di sebelah Khalid untuk memerangi pasukan Bizantium. Dalam perang itu ia menderita luka parah dan menemui syahidnya di medan Yarmuk. Setelah berislam, ia hanya satu kali melakukan shalat, dan sujud dalam dua rakaat. Kemudian ia gugur di medan jihad.
Benarlah apa yang Khalid ucapkan, bisa jadi orang yang baru memeluk Islam dan sedikit amalnya lebih unggul dibanding orang yang terlahir sebagai seorang muslim. George hanya menunaikan satu kali shalat dalam hidupnya, namun ia mendapatkan kemuliaan jihad di jalan Allah. Menjemput kematian sebagai seorang syuhada, insya Allah.

Sumber:
– Tarikh al-Umam wa –ar-Rusul wa al-Muluk oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, jilid 3, halaman 398-400.
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

https://kisahmuslim.com/5385-george-bin-todzira-hidayah-datang-saat-di-medan-perang.html

Selasa, 19 April 2016

~Pengantin Baitul Maqdis ~

  “Aku menginginkan istri yang sholihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia tarbiyahkan dengan baik hingga jadi pemuda ksatria serta mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin”.

 
Begitulah impian luar biasanya Najmudin Ayyub (Ayah Shalahuddin Al-Ayyubi), seorang penguasa Tikrit di Iraq. Sekian lama lelaki ini membujang demi sebuah harapan, dia hanya mau menikah dengan sosok wanita istimewa. Berbagai tawaran ditolaknya, bahkan ketika saudaranya memilihkan putri Malik Syah anak Sultan Muhammad bin Malik Syah Raja dari Bani Saljuk, atau putri Nidzamul Malik, mantan menteri agung zaman Abbasiyah.

Suatu hari ketika ia duduk – duduk bersama seorang syaikh, datanglah seorang wanita yang mengadukan masalahnya, gadis itu telah menolak pinangan seorang pemuda.
Di saat syaikh itu menanyakan kenapa dia menolaknya. Wanita itu (juga) mengatakan: 
Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin”.


MaasyaAllaah  ! Kata – kata yang sama pernah diucapkan Najmuddin kepada saudaranya. Di dunia ini tak ada yang kebetulan semua telah ditaqdirkan-Nya. Barang siapa ikhlas niat karena Allah Azza wa Jalla semata maka Allah akan menolong dan memudahkan semua urusan hamba-Nya.
Keduanya akhirnya menikah, bukan karena kecantikan, ketampanan atau kedudukan, tetapi demi sebuah obsesi besar yang mempertemukan mereka. Bara kerinduan membuncah akan lahirnya insan pilihan yang mampu meninggikan panji – panji Islam.

Kala itu negeri kaum muslimin tengah dilanda kehinaan dengan bercokolnya kaum salibis di berbagai belahan dunia. Allahu Akbar….  Azam begitu membaja, do’a serta keshalihan mereka berdua akhirnya berbuah manis. Maka dari dua sosok spektakuler inilah lahirlah Sholahuddin Al Ayyubi, sang penakluk Baitul Maqdis.
Selamat wahai Najmuddin, sungguh labuhan cintamu membawa keberkahan bagi kejayaan Islam. Siapa yang tak kenal dia ? seorang pemberani yang rendah hati, dialah buah cinta yang tersemai dalam harumnya cinta sejati. Hingga detik ini kisahnya telah menginspirasi kaum muslimin untuk selalu berjuang meninggikan kalimat Tauhid Laailaahaillallah.

Ada banyak hikmah dari perjalanan cinta Najmuddin. Diantaranya adalah suami istri haruslah memilki visi, misi dan orientasi yang sama dalam pernikahannya. Tanpa tujuan yang jelas mustahil gambaran rumah tangga Islami yang penuh dengan mawaddah serta rahmat-Nya hanyalah mimpi dan sulit diwujudkan. Satu hal lagi betapapun hebat dan terlihat menakjubkan target – target yang di cita – citakan pasutri namun tanpa ilmu, semangat, dan komitmen kuat untuk mewujudkan obsesi – obsesinya semua itu tak ada manfaatnya.
Di sinilah pasutri perlu bersinergi dan selalu berkolaborasi agar pernikahannya selalu sukses lahir batin, dunia maupun akhirat. Termasuk para calon pasutri, tak ada salahnya anda memupuk asa sebagaimana cerita Najmuddin. Bersemangatlah jangan engkau pesimis dan ragu. Bercita – citalah melahirkan generasi pembuka Roma.

Point penting kedua yang dapat diteladani dari pernikahan istimewa diatas bahwa faktor kesholihan kedua orang tua memilki kontribusi besar dalam mencetak generasi Rabbani. Sebagaimana pepatah yang cukup populer,dengan  dasar agama Islam yang baik dan benar tentunya mereka akan berjuang keras agar keturunannya mempunyai kualitas serta kuantitas agama yang bagus bahkan mungkin melebihi keshalihan keduanya.

Bukankah mendidik anak dan membimbing anak lebih sulit dibandingkan dengan melahirkannya?. Mentarbiyahnya butuh ilmu, semangat kesabaran dan do’a yang tak kenal henti.(1)

Jika memang benar cintamu karena Allah
Yakinlah, orang yang shalih pasti bertemu dengan yang shalihah 
Yang hijabnya syar'i akan bertemu dengan ikhwan yang tidak isbal
Seorang Ikhwan yang rajin jama'ah di Masjid
Akan berjodoh pula dengan yang senantiasa menjaga auratnya dirumah
Seorang yang bercita-cita mulia dijalan Allah semata
Maka Allah akan mempertemukannya kepada siapa saja yang pantas menurut Allah.(2)

Akan tetapi jangan lupa, CINTAMU HARUS Benar-benar jujur, cinta pacaran ataupun cinta monyet saja tidak akan pernah cukup,,
Salah satu Imam Mazhab, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I rahimahullah pernah menuturkan,

لو كان حبك صادقا لأطعته … إن المحب لمن يحب مطيع

Jika Cintamu Jujur….
Niscaya ‘kau ‘kan taati dirinya…
Karna sesungguhnya orang yang mencintai itu…
Akan sangat taat kepada kekasih yang dicintainya..(3)



———————————————————————–
1). Penulis: Ummu Nashifah Isruwanti
     Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits
     Artikel www.muslimah.or.id
    Dengan sedikit pengurangan penambahan (Yusuuf Arifin).
    Judul Asli : PENGANTIN BAITUL MAQDIS, https://muslimah.or.id/8478-pengantin-baitul-maqdis.html

2). Kreatif bikin sendiri , hh... 

3). Syair ini dikutip dari Imam Asy-Syafi’i oleh
    (a) محمد بن أبي بكر أيوب الزرعي أبو عبد الله (masyhur dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah) dalam kitab روضة المحبين ونزهة المشتاقين , cet. دار الكتب العلمية – بيروت ، 1412 – 1992, hal. 266
    (b) : محمد بن أبي بكر أيوب الزرعي أبو عبد الله. Dalam kitab طريق الهجرتين وباب السعادتين, cet III (1414 – 1994) : دار ابن القيم –   الدمام , hal. 444.
   (c) anonim,  dalam kitab مجمع الحكم و الأمثال,  tidak tertulis halamannya.
       
       diambil dari link ini